Rabu, 06 Februari 2013

Ular Sanca Kembang (Python reticulates)


Ular piton atau dikenal sebagai ular sanca merupakan keluarga  Phytonidae  yang  terdapat  sekitar 26 jenisnya di dunia. Bersama dengan Anaconda, Ular piton merupakan ular terbesar di kelompoknya.

               Walaupun tampak berbahaya, namun ular piton ternyata tidak memiliki bisa. Cara pitonberburu adalah dengan cara mengendap mendekati mangsanya atau berdiam diri sampai mangsanya mendekat lalu mencengkram mangsanya dengan rahang  yang besar lalu meremukkan tubuh mangsanya dengan lilitan otot tubuhnya.

               Metabolisme ular sangat lambat. Sehabis menelan mangsanya dibutuhkan waktu berhari-hari bahkan mingguan utnuk membuatnya makan kembali. Musim kawin berlangsung antara September hingga Maret di Asia. Ular betina memiliki tubuh yang lebih besar daripada jantan.

Ciri-ciri ular sanca kembang (Python reticulates), yaitu:
*      Panjang rata-rata retic dewasa adalah 5-7 meter.

*      Coraknya yang cukup cantik.

*  Pada punggungnya terdapat rangkaian pola berwana hitam yang membentuk berbagai pola.

*   Ada yang bulat seperti rangkaian rantai, ada pula yang kotak seperti kartu    wajik, dan masih banyak bentuk lainnya yang memanjang dari leher sampai dengan ekornya.

*      Bagian samping ular ini dihiasi corak berwarna kuning dan abu-abu keperakan.

*      Ular piton termasuk ular yang berumur panjang, hingga lebih dari 25 tahun. 

Makanan ulau sanca kembang, yaitu:
ü  Tikus
ü  Kelinci
ü  Marmut
ü  Ayam
ü  Daging sapi
ü  Biawak
ü  Burung
ü  Kodok
ü  Kadal
ü  Ikan


  Habitat ular ini adalah:
                                                           v  Hutan basah
                                                           v  Rawa
                                                           v  Sungai
                                                            v  Danau

Di Indonesia ular piton tersebar di:
1.      Sumatera
2.      Kalimantan
3.      Jawa
4.      Nusa Tenggara
5.      Sulawesi

Selasa, 22 Januari 2013

Sejarah Ular


             Ular sudah ada sejak 100 juta tahun lebih lama dari manusia modern, kecuali di daerah kutub dan di beberapa pulau, mereka tersebar di seluruh dunia. Agama menghubungkan ular dengan kekuatan  mistis, mempengaruhi emosi manusia mulai dari rasa hormat hingga rasa takut.

               Ular hidup diantara kita tetapi kita sulit menerima mereka di dekat rumah kita, baik kita melihat mereka ataupun tidak. Dalam sejarah manusia, ular adalah objek mitos dan legenda biasanya sebagai setan. Di taman firdaus setan menyamar sebagai ular, ia dikutuk oleh Tuhan untuk berjalan dengan perutnya. Dibanyak budaya ular dihormati dan dianggap berkuatan gaib. Di bagian utara afrika selatan, akan dilakukan ritual kesuburan manusia, wanita-wanita muda suku menari mengelilingi api tangan mereka berkaitan satu sama lain sebagai symbol ular sanca (pengatur kehamilan). Orang meksiko kuno percaya bahwa ular adalah dewa. Menghubungkan antara neraka dan surga, dunia dan jagat raya. Dalam bahasa kebudayaan yang hilang ini, rasi scorpio disebut amaru (yang berarti ular). Rasi ini mempunyai pengaruh spiritual terhadap budaya di amerika tengah dan selatan. Manusia selalu tergoda untuk memitoskan ular, tak sulit untuk mengetahui alasannya.

               Dalam kepercayaan penduduk Irlandia, semua ular yang ada di negeri itu telah diusir keluar oleh Santo Patrick, dan hingga sekarang hari tersebut menjadi perayaan yang sering dikenal dengan “St. Patrick Day”. Mitologi Yunani ular lebih erat hubungannya dengan Medusa, wanita cantik yang mempunyai banyak ular sebagai rambutnya.  Kepercayaan masyarakat Yunani kuno mengatakan bahawa siapa saja yang menatap langsung mata medusa maka orang tersebut akan berubah menjadi batu. Dalam kepercayaan orang Mesir ular kobra merupakan penyebab dari kematian ratu mesir yang terkenal, yaitu Cleopatra.

               Dalam kebudayaan masyarakat Jawa, ular dipandang sebagai perwujudan “Dewi Sri”, Dewi Sri turun ke Bumi mengambil rupa ular sawah. dewi yang sering digambarkan sebagai pelindung para petani. Kepercayaan budaya Jawa sampai sekarang masih percaya bahwa setiap ular yang ada di persawahan mereka merupakan perwujudan dari Dewi Sri, dan kebanyakan dari merka akan tetap membiarkan ular itu, bahkan ada yang sampai memberikan “sesaji” di persawahan mereka.

               Nenek moyang ular muncul dari percobaan evolusi yang menyebabkan mereka tidak memiliki anggota tubuh. Mereka adalah cerita sukses dari dunia alamiah. Lokasi geografis memaksa memaksa semua hewan berevolusi dengan caranya, ilmuwan dapat melacak evolusi ular dengan mempelajari DNA. Asal mula ular tidak begitu jelas itu terjadi sekitar lebih dari 100 juta tahun lalu, para peneliti cukup yakin bahwa ular berkembang dari suatu jenis kadal. Apapun jenisnya, pada saat kritis tertentu, mereka dianggap sebagai mahkluk yang hidup di lubang dan tubuhnya berubah. Jika kita dapat lihat, ketiadaan anggota tubuh dan panjang tubuhnya merupakan evolusi yang terjadi secara terus-menerus, mungkin kadal tertentu kehilangan kaki dan menjadi mahkluk yang merayap. Kebanyakan berevolusi belum begitu banyak, kita punya beberapa saja saat ini. Salah satunya adalah ular. Percobaan itu dapat dilihat di rangka dekat ekor ular sanca, taji yang tajam mencuat pada sanca hidup.

               Melalui evolusi yang unik, ular membuktikan tidak perlu anggota tubuh untuk berlari, melompat atau berenang. Hidup di laut membuat ular Laut beradaptasi dengan tantangannya, ekor menyerupai dayung dan memiliki sirip disepanjang perutnya. Hal ini dapat membuatnya meluncur di dalam air. Ia mempuyai paru-paru yang membujur hampir sepanjang tubuh. Dengannya ia mampu menyelam sedalam 300 kaki, sekali nafas ia mampu bertahan selama 5 jam di dalam air. Untuk dapat cepat  membunuh ikan dan belut mereka mempunyai bisa yang kadarnya lebih tinggi dari Kobra. Beradaptasi dengan baik di laut, daerah kering bukanlah tempatnya. Kebanyakan ular laut tidak memiliki sisik yang dapat digunakan untuk mencengkam tanah dan yang dapat memungkinkan mereka dapat bergerak dan bertahan hidup di darat.

               Semua ular memiliki bentuk tubuh yang sama banyak variasi pada polanya. Dengan panjang 3 meter, Ular Python akan tumbuh lebih panjang 5 kali dari Ular Koros pada umumnya. Berat yang dimiliki Ular Anaconda Hijau akan 7000 kali lebih berat dari Ular Buta, yang merupakan ular terkecil di dunia. Ada sekitar 2700 spesies ular yang berbeda, 70% diantaranya menetas dari telur, yang lainnya keluar dari kulit telur yang lentur.

               Taring bisa terdapat pada 25% dari semua jenis ular. Semua jenis mempunyai metode bertahan dan menyerang yang teradaptasi dengan lingkungannya, mulai dari hutan hujan hingga gurun. Ekor ular cantle menyerupai cacing sehingga jika ada kodok yang melihat maka kodok yang semula berperan sebagai pemangsa berubah menjadi mangsa. Ular hidup secara diam-diam, bergerak secara cepat dan tepat. Hidup di pucuk pohon hingga ke kedalaman laut, ular merubah hal yang tidak menguntungkan menjadi evolusi yang menarik. Makhluk yang tidak memiliki anggota tubuh adalah sesuatu yang spektakuler karena dapat bertahan hidup dan kadang sangat ditakuti.

               Ular biasanya tidak agresif, mereka menyerang manusia hanya kebetulan atau sebagai pertahanan diri, kebanyakan dari mereka akan mengingatkan mamalia besar akan kehadirannya, tetapi kebanyakan dari itu banyak yang tidak menyadari tanda-tanda itu, dan menyerang adalah upaya terakhir. Ular sudah ada dari berjuta-juta tahun lalu  dan akan tetap ada sampai berjuta tahun ke depan. Selama mereka tidak diganggu, tetapi tak ada alasan untuk mereka takkan diganggu. Mereka beradaptasi dengan sangat baik dilingkungan mereka. Jika diberi kesempatan, mereka akan terus ada berjuta tahun lagi.